KENALI PAS

Klik gambar untuk senarai artikel.

PRU13

Klik gambar untuk senarai artikel.

MANIFESTO

Klik gambar untuk senarai artikel.

FIKRAH

Klik gambar untuk senarai artikel.

TAHALUF SIYASI

Klik gambar untuk senarai artikel.

KALIMAH ALLAH

Klik gambar untuk senarai artikel..

Showing posts with label Dunia Islam. Show all posts
Showing posts with label Dunia Islam. Show all posts

Sunday, 12 June 2011

Parti Ikhwan Akan Jalin Hubungan dengan Partai Liberal dan Kiri Mesir



Ikhwanul Muslimin berusaha untuk membangun aliansi besar-besaran dengan partai liberal dan kiri untuk pemilihan parlemen yang dijadwalkan September mendatang, kata Issam al-Arian, wakil presiden Partai Kebebasan dan Keadilan pada hari Jumat lalu.

Pada konferensi yang diadakan di Delta, Arian mengatakan partainya tidak berencana untuk mencapai mayoritas di parlemen, dan hanya berusaha merebut 30-35 kursi jika pemilu berjalan secara independeni.

Erian mengatakan pihaknya ingin membentuk aliansi yang mencakup semua kekuatan politik, seperti kaum liberal, partai baru dan lama, serta kaum kiri dan Islam. Ia mengatakan ini akan membantu menghasilkan kriteria untuk pekerjaan panel yang akan menyusun konstitusi baru.

"Kami mampu membangun bangsa, merdeka bebas yang tidak meminta bantuan asing," katanya, menambahkan bahwa partainya akan menerjemahkan kata menjadi tindakan.

Arian mengatakan pihaknya menghargai upaya yang penguasa dari Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata meskipun mengutuk pelanggaran hak asasi manusia yang mungkin telah dilakukan militer.

Arian juga mengatakan orang-orang saat ini percaya dengan pemerintahan Perdana Menteri Issam Syaraf. "Meskipun tidak ada parlemen untuk memantau kinerja, ada rakyat dan media yang akan mengawasi," katanya menambahkan. (fq/amay)

Friday, 10 June 2011

Mursyid Ikhwan: Akibat Penyiksaan Anggota Ikhwan Mesir Kalah Perang

 

 Mursyid 'Aam Ikhwanul Muslimin Muhammad Badi menuduh bahwa kekalahan Mesir di tangan Israel dalam perang tahun 1956 dan 1967 serta jatuhnya Presiden Hosni Mubarak, semuanya akibat dari murka Allah karena penganiayaan yang terjadi terhadap anggota Ikhwan.


Dia menambahkan bahwa penangkapan anggota Ikhwan oleh Presiden Gamal Abdel Nasser pada tahun 1954 menyebabkan kekalahan pada perang 1956 dan serangkaian penahanan anggota Ikhwan pada tahun 1965 juga menyebabkan kekalahan pada perang 1967 melawan Israel. Demikian pula, pemenjaraan anggota Ikhwan oleh Mubarak berakibat terjadinya revolusi 25 Januari sehingga mengakibatkan Mubarak jatuh.

Badie menyampaikan hal tersebut dalam khotbah Jumat minggu lalu, bersamaan dengan peringatan kekalahan pasukan Mesir oleh Israel pada tanggal 5 Juni 1967, sembari menegaskan juga bahwa Ikhwan adalah yang pertama untuk berbicara melawan ketidakadilan di Mesir dan telah menderita selama bertahun-tahun akibat penyiksaan dan penjara sebagai akibat keberanian mereka melawan rezim Mesir.

"Namun Allah telah memungkinkan Ikhwan untuk membuka markas baru mereka di daerah Muqattam, di mana banyak para syuhada yang meninggal di penjara militer dikuburkan di sana," kata Badi menambahkan.

Selain itu, pemimpin Ikhwan ini menyatakan bahwa kekalahan tahun 1967 adalah suatu peristiwa yang mengejutkan dunia Arab terlepas dari upaya oleh banyak politisi Mesir untuk membenarkan kekalahan dengan mengatakan bahwa itu hanya sebuah pertempuran dan bukan perang.

Badi juga mengecam semua politisi yang bersikeras bahwa perang tahun 1967 itu sebenarnya adalah kemenangan dan bukan kekalahan. Dia menyatakan bahwa kondisi yang represi, kurangnya kebebasan dan kediktatoran yang memerintah Mesir pada saat itu menjadi indikator kekalahan yang segera melanda negeri ini. Tingkat korupsi yang tinggi, kata Badi, telah menanamkan ketakutan, kemunafikan dan kepasifan dalam bangsa ini.

Dia menambahkan bahwa semua diktator hanya peduli untuk mempertahankan terus kekuasaan mereka dan akan berhenti sampai negara telah dihancurkan atau diduduki oleh pasukan asing.

Badi juga menyerang gerakan petugas bebas yang mengatur Revolusi 1952, mengatakan bahwa ketika revolusi berlangsung, mereka berjanji akan adanya kebebasan, demokrasi dan keadilan namun yang terjadi malah sebaliknya, orang-orang dibantai dan demokrasi ditindas.

"Tapi sekarang fajar terang akhirnya datang," kata Badi. "Para Intifida dari bangsa-bangsa Arab di Tunisia, Mesir, Libya, Yaman dan Suriah telah menyebabkan jatuhnya korupsi dan tirani oleh rakyat yang berbaris menuntut keadilan dan kebebasan. Sekarang para diktator dan fir'aun jatuh seperti boneka. "

Orang-orang Arab akhirnya terbangun dari koma mereka, tambah Badi, dan sekarang buah dari revolusi Mesir sudah terungkap dengan rekonsiliasi antara faksi Fatah dan Hamas Palestina dan pembukaan perbatasan Rafah.

Ia menyimpulkan dengan mengatakan bahwa kebijakan yang sekarang diadopsi oleh Mesir difokuskan pada peningkatan kehidupan masyarakat, dan dari sekarang, AS dan Israel tidak akan bisa ikut campur dalam keputusan internal negara Mesir.

"Kemenangan akan datang Insya Allah tidak ada keraguan tentang itu," kata Badi menambahkan. "Dan kembalinya Palestina, Yerusalem dan Dataran Tinggi Golan dan semua tanah yang diduduki oleh Israel bukan lagi mimpi tapi harapan yang akan menjadi kenyataan segera. Sekarang setelah orang memberontak, era superioritas Israel telah berakhir dan sekarang Israel meragukan bahwa keberadaan mereka apakah akan terus ada. " (fq/alahram)

Monday, 6 June 2011

Kelompok Ikhwan Mengambilalih Kekuasaan di Yaman?

  1.  

Rezim Ali Abdullah Saleh mendapat pukulan yang telak, dan mungkin dia tidak dapat lagi kembali ke Yaman, karena pemerintah Saudi menolak membantunya.


Roket yang menimpa dirinya dan sejumlah pejabat tinggi Yaman, hari Jum'at lalu, saat dia sedang berdoa di masjid di Komplek Istana Presiden, semua itu akan mengakhiri impiannya untuk terus berkuasa, yang sudah dijalaninya selama lebih dari tiga dekade.

Aliansi suku yang mengangkat senjata melawan Saleh tampaknya akan menjadi pemenang. Suku terbesar di Yaman yang dipimpin Shadiq al Ahmar, yang merupakan anak dari Sheikh Abdullah Al-Ahmar, yang pernah menjadi Ketua Parlemen Yaman (DPR), serta pemimpin Partia Ishlah, yang menjadi jelmaan Jamaah Ikhwanul Muslimin, nampaknya sekarang menjadi penentu politik di negeri itu.

Hakekatnya, Yaman yang diikat sebuah kesepakatan antara pemimpin suku, yang kemudian menjadi sebuah negara yang bersatu antara Yaman Selatan dan Utara, tak lain merupakan hasil perjanjian antara pemimpin suku, yang menyepakati Ali Abdullah Saleh menjadi presiden, di tahun 1994.

Ali Abdullah Saleh yang dikelilingi keluarganya dalam mengelola negara, terutama bidang keamanan, dan seluruh lembaga dan unit keamanan diserahkan kepada keluarganya atau anaknya.

Seperti anaknya yang bernama Ahmed Ali Abullah Saleh, yang sudah lama dipersiapkan untuk menjadi penggantinya, dan keponakannya, Yahya Muhammad Saleh, mengepalai unit paling efektif - dan tampaknya tak mampu berbuat banyak menghadapi situasi yang ada.

Ahmed menjadi panglima Garda Republik dan Yahya menjadi komandan anti-terorisme,yang paling berpengaruh, dan dia menjabat sebagai komandan militer - sejak tahun 2005. Presiden Ali Abdullah Saleh menyerahkan kepada 31 sepupunya untuk memimpin unit-unit pasukan keamanan di Yaman. Inilah bentuk kekuasaan di Yaman, di bawah Ali Abdullah Saleh.

Sekarang keluarga dan anak-anak Ali Abdullah Saleh mereka harus menghadapi pemimpin aliansi suku al-Hashid, suku yang paling besar di Yaman - yang dipimpin Shadiq al-Ahmar, dan sebenarnya Ali Abdullah Saleh menjadi anggotanya. Tetapi, satu per-satu mereka telah meninggalkan presiden, saat ia terkonsentrasi pada kekuasaan dan uang, dan membagi kekusaannya dalam kelompok yang sangat terbatas, dan sangat kecil, yaitu keluarganya.

Karena pola kekuasaan Ali Abdullah Saleh yang semakin "mengecil" dari lingkaran keluarganya semata, maka kemudian para pendukungnya, termasuk Hamid al-Ahmar, seorang pemimpin Partai Islam Islah, yang juga seorang pengusaha terkemuka, berubah menjadi lawan politiknya.

Ali Abdullah Saleh kehilangan sekutu-sekutunya, dan ia hanya mengandalkan dukungan dan perlindungan dari anak-anaknya dan keluarganya yang menguasai unit-unit militer. Pemimpin aliansi suku di Yaman, Sheikh Shadiq al Ahmar, marah dan meminta Ali Abdullah Saleh mundur, sesudah terjadi penembakan terhadap puluhan demonstran bulan Maret lalu.

Sheikh Abdullah Bin Hussein al-Ahmar, yang meninggal pada tahun 2007, adalah tokoh yang sangat penting di Yaman, dan memimpin Partai Islam Ishlah, yang menjadi jelmaan Jasmaah Ikhwan, dan Sheikh Abdullah al Ahmar pernah ketua parlemen Yaman. Posisi itu, sekarang digantikan oleh keponakannya yaitu Hamid al-Ahmar, yang merupakan sepupu dari Shadiq Al-Ahmar. Shadiq al-Ahmar adalah anak dari Sheikh Al-Ahmar.

Sheikh Abdullah al-Ahmar adalah salah satu tokoh yang sangat dihormat di Yaman secara luas - orang sering menggambarkannya sebagai bapak Yaman modern. Dia adalah seorang pemimpin oposisi, tetapi juga ketua parlemen, dan Saleh tidak berhati-hati mensikapi Sheikh Abdullah al-Ahmar. Hari ini, nampaknya tak ada pertemuan antara pemimpin suku Hashed yang dipimpin oleh Shadiq Al Ahmar dengan Ali Abdullah Saleh.

Lalu, siapa orang yang paling kuat di Yaman sekarang, sesudah Saleh berada di rumah sakit Riyadh, selain Shadiq al-Ahmar, mungkin Brigadir Jenderal Ali Muhsin al-Ahmar.

Jenderal Ali Muhsin seorang Komandan Divisi Lapis Baja Pertama. Sikap Muhsin merupakan pukulan yang pertama dan menentukan, ketika ia membelot pada bulan Maret, dan mengajak pasukannya berabung dengannya. Dia kemudian memerintahkan pasukannya untuk melindungi para demonstran yang melakukan aksi protes di Sanaa. Unit pasukan yang dipimpin Ali Muhsin baru-baru ini mengambil alih gedung-gedung dekat kompleks presiden.

Saleh menyalahkan al-Ahmar yang melancarkan serangan roket yang menghantam komplek Istana Presiden, Jumat lalu. Para pejabat lain mengatakan hanya pasukan profesional yang bisa terorganisir, dan berhasil melakukan serangan dengan sangat tepat.

Apa yang membuat Muhsin al-Ahmar menjadi perhatian pemerintah Barat, karena dia dikaitkan hubungannya dengan Islam Sunni yang radikal. Pengamat politik Yaman, mengatakan bahwa Ikhwanul Muslimin telah lama berpengaruh dalam komando militer al-Ahmar, dan dia dikenal karena sikapnya yang antipati terhadap Syi'ah Yaman.

Barak Barfi, seorang peneliti di New America Foundation, sebuah think tank yang berfokus pada terorisme di Timur Tengah dan Asia Selatan, baru-baru ini mencatat bahwa al-Ahmar " menikah dengan adik Tariq al-Fadhli, seorang Yaman yang berjuang bersama al Qaeda Osama bin Laden di Afghanistan. Bila lebih dari 4.000 orang Arab kembali dari pertempuran Soviet di Afghanistan, maka al-Ahmar merupakan kekuatan yang terorganisir, dan mereka berada dalam unit militer, yang dapat dikerahkan dalam perang sipil 1994. Tetapi, semua itu hanyalah sangkaan dari intelijen Barat, yang tidak ingin kekuatan Islam berkuasa, dan menuduh Al-Ahmar bagian dari Al-Qaidah.

Tokoh lain yang mungkin memainkan peran penting adalah ulama Abdulmadjid al-Zindani, pendiri Partai Islah Islam. Zindani ulama yang sangat ditakuti oleh Yaman liberal. Sheikh Abdul Majid Zindanni, yang terkenal dengan ilmunya, dan menulis tentang al-Qur'an yang dikaitkan dengan ilmu pengatahuan. Zindani juga sebagai pendiri (muasis) Jamaah Ikhwan di Yaman. Tetapi, ia lebih banyak di bidang ilmu dakwah dan ilmu pengetahuan.

Wakil Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi telah mengambil alih kekuasaan dan mengambil alih komando angkatan bersenjata dan keamanan Yaman. Wakil Presiden sejak tahun 1994, dia tidak ingin menerima kekuasaan dari Ali Abdullah Saleh. Dia sebagai orang selatan, ia tidak memiliki banyak dasar kekuasaan.

Maka, kolaborasi antara Bregadir Jenderal Ali Muhsir Al Ahmar, Shadiq Al Ahmar, Hamid Al-Ahmar, yang masih satu suku dan keluarga, nampaknya yang akan menentukan masa depan Yaman. (mh/tm)

Sunday, 5 June 2011

Pembangkang di Yaman Merayakan Kemenangan



Para aktivis muda hari Minggu , mereka merayakan apa yang mereka katakan adalah jatuhnya rejim Yaman yang dipimpin Presiden Ali Abdullah Saleh, setelah dia meninggalkan negara itu, dan pergi ke Arab Saudi.

"Hari ini, baru lahir Yaman," , teriak mereka. Mereka bernyanyi di Sanaa's University Square - dijuluki "Perubahan" Square - pusat gerakan protes anti-rezim yang berkobar melawan kekuasaan Saleh sejak Januari. "Rezim telah jatuh," teriak lainnya.

Di kota Yaman terbesar kedua Taez, sebuah titik nyala demonstrasi anti-rezim selatan Sanaa, ratusan juga merayakan kemenangan."Kebebasan .. Kebebasan, Ali telah melarikan diri", ujar mereka.

Presiden Ali Abdullah Saleh (69), mengalami luka-luka, akibat ledakan saat dia berdoa di sebuah masjid di dalam kompleks Istana Presiden pada Jumat. Kemudian, pemimpin Yaman itu diterbangkan ke Riyadh, Sabtu malam dengan menggunakan pesawat khusus, ujar seorang pejabat Saudi.

Presiden ali Abdullah Saleh berkuasa sejak tahun 1978, dan menolak tuntuntan mundur dari kalangan oposisi, dan mengatakan akan kembali ke Yaman, kata pejabat itu.

Pemimpin Yaman Saleh yang mengalami luka-luka itu diterbangkan dengan campaur tangan langsung dari pemerintah Saudi, dan langsung dibaah ke Riyadh dengan pesawat khusus Saudi dan langsung dibawa ke rumah sakit militer Riyadh. Sementara itu, pesawat kedua digunakan mengangkut keluarganya, dan sejumlah pejabat negeri yang menagalami luka akibat serangan oposisi, terutama kelompok suku Hashid yang memberontak dibawah Shadiq al Ahmar.

Kerusakan cukup parah yang dialami masjid di kompleks presiden Yaman Ali Abdullah Saleh di Sanaa, akibat serangan rudal dari para pejuang oposisi.

Putranya tertua Ahmad, komandan Garda Republik elit, tetap di Yaman. Pihak oposisi mengatakan Ahmad adalah bersiap-siap untuk mengambil alih kekuasaan ayahnya sebelum oposisi mengambil alih.
Ledakan di masjid istana kepresidenan menewaskan 11 orang dan melukai 124 lainnya, menurut sebuah tol resmi.

Presiden Ali Abdullah Saleh menderita "luka bakar dan goresan pada wajah dan dada," kata seorang pejabat. Sementara, pemimpin Partai yang berkuasa Partai Kongres Rakyat telah mengatakan ia hanya "luka ringan di bagian belakang kepala."

Di Sanaa, sumber istana presiden dikonfirmasi kepergian Saleh, yang secara konstitusi akan digantikan oleh Wakil Presiden Abdrabuh Mansur Hadi, nampak tidak hadir saat pemimpin Yaman itu meninggalkan bandara.

Sebuah sumber yang dekat dengan Syekh Shadiq mengatakan pemimpin suku yang kuat adalah "berkomitmen untuk gencatan senjata yang didasarkan pada upaya mediasi yang dipimpin oleh Raja Saudi Abdullah dan Putra Mahkota Sultan bin Abdul Aziz meskipun masih terus terjadi pertempuran" oleh pasukan Saleh.

Warga di Taez melaporkan penjarahan telah terjadi, dan pria bersenjata telah menyita bangunan umum menyusul penarikan oleh pasukan keamanan yang menewaskan sedikitnya 50 orang dalam tindakan keras terhadap para demonstran anti-Saleh pekan lalu. (mh/aljz)

Friday, 3 June 2011

Karena Desakan AS, Kaherah Kembali Menutup Sempadan Rafah




RAFAH (Arrahmah.com) - Hanya empat hari setelah pembukaan sempadan Rafah-Gaza oleh penguasa Mesir, Kaherah kembali menutupnya dengan serangkaian birokrasi pembatasan ketat terhadap penduduk Palestina yang ingin keluar masuk.

Debka melaporkan bahwa Ketua Dewan Militer, Mohammed Tantawi secara pribadi menandatangani perintah baru dalam merespon permintaan AS yang terus-menerus mendesak, berdasarkan informasi bahwa sejak sempadan Rafah dibuka secara bebas pada hari Sabtu lalu, penduduk Palestina dan Mujahid Al Qaeda telah menyerbu masuk melalui penyebrangan terbesar, Sinai dan Terusan Suez dan kota-kota pesisir yang terbuka untuk menyerang.

Washington memperingatkan bahwa “teroris” yang tidak terdaftar oleh Barat atau lembaga kontra-teror Mesir akan bebas untuk mencapai Mesir, melakukan serangan dan kembali ke Jalur Gaza tanpa hambatan kecuali pembatasan diberlakukan untuk menyaring mereka.

Selasa (31/5/2011), Tantawi menginformasikan Washington bahwa pembatasan baru, hampir menutup Rafah.  Mesir kemudian menyetujui permintaan AS untuk menerima seorang pejabat pertahanan Israel dan membahas koordinasi keamanan antara Kairo dan Yerusalem sekitar perbatasan mereka.

Amos Gilad, penasehat politik di Departemen Pertahanan Israel, tiba di Kairo pada Rabu (1/6) dan mengadakan pembicaraan dengan pejabat Mesir, termasuk menteri intelijen, Murad Muwafi, yang menjelaskan langkah-langkah keamanan baru di perbatasan Rafah, sebagai berikut :

1.  Mesir telah menyerahkan pemerintah Hamas 5.000 orang Palestina yang dilarang mengakses ke pos perbatasan Rafah dan masuk ke Mesir.  Ini mencakup seluruh level dari organisasi bersenjata Hamas, Jihad Islam, Palestina Front dan organisasi “ekstrimis” lainnya yang berbasis di Jalur Gaza.

2.  Setiap harinya dibatasai hingga 400 orang yang menyebrang-bandingkan dalam tiga hari pertama sekitar 1.000-2.000 penduduk Palestina mengakses pintu masuk Rafah.

3.  Penduduk Palestina yang aberusaha untuk melakukan perjalanan medis pertama akan diperiksa oleh panel medis Mesir yang harus menyetujui aplikasi mereka,

4.  Kaherah menginginkan daftar 400 calon diajukan di muka dan tidak menjanjikan izin bagi mereka semua.  (haninmazaya/arrahmah.com)

Wednesday, 1 June 2011

Tentera Isreal Usir Penduduk Lembah Jordan




JORDAN VALLEY (Arrahmah.com) – Pasukan pendudukan Zionis sejak Rabu (1/6/2011) pagi mengusir penduduk Khirbet Irza di Lembah Jordan dari rumah mereka, dan memperingatkan mereka agar kembali lagi dengan alasan daerah tersebut menjadi zon militer tertutup. Hal tersebut sebagai langkah awal Israel untuk manuver militer besar-besaran di lereng pegunungan yang dibangun oleh Khirbet tersebut.

Sumber-sumber tempatan mengatakan lebih dari 200 warga terpaksa meninggalkan rumah mereka. Mereka semua bekerja sebagai penggembala kambing di daerah tersebut dan berasal dari daerah Tubas. Mereka meninggalkan rumah-rumah mereka setelah mencapatkan ancaman langsung dari tentara Zionis yang mengepung daerah tersebut dan mencegah siapapun masuk ke sana.

“Penduduk wilayah ini melihat artileri dan peralatan mesin berat dibawa ke wilayah tersebut sejak malam. Wilayah ini dianggap lebih baik untuk latihan tentera Israel kerana menyerupai medan di Lebanon Selatan.”, demikian pernyataan Ketua Dewan Desa di Irza, Mukhlis Massaeid.

Dia mengatakan bahawa penduduk daerah tersebut terus-menerus menderita akibat peluru-peluru yang beterbangan dari pasukan Israel yang mengelilingi daerah tersebut dengan tiga kamp militer untuk pasukan Israel. Hal ini menyebabkan sejumlah warga Khirbet Irza gugur dan cederaa.

Massaeid juga menegaskan bahawa penduduk Khirbet Irza akan kembali ke daerah tersebut dan tidak akan tunduk pada keputusan pasukan pendudukan Israel yang berusaha untuk mengusir merela sejak menduduki Tebing Barat pada tahun 1967. (rasularasy/arrahmah.com)

SUMBER

Tuesday, 31 May 2011

Pertemuan Marsekal Hussien Thantawi dan Mahmud Abbas



Pemimpin Dewan Tentera Mesir , Marsekal Hussein Tantawi, mengadakan perbincangan pada hari Isnin dengan Presiden Palestin Mahmoud Abbas berkaitan dengan usaha regional dan antarabangsa untuk memperkuat proses perdamaian Israel-Palestin.

Mereka juga membicarakan dukungan Mesir untuk perjanjian rekonsiliasi baru-baru ini antara faksi Fatah dan Hamas Palestin.

Dalam pertemuan tersebut, Abbas menyatakan siap untuk memulai perundingan dengan Israel menggunakan asas yang disarankan oleh Presiden AS Barack Obama pada 19 Mei ucapan di Timur Tengah, serta mengandalkan keputusan Prakarsa Perdamaian Arab.

Dalam ucapannya, Obama mendesak Israel untuk menarik diri dari daerah ini telah mereka duduki sejak perang tahun 1967. Sementara itu, Israel menolak idea Presiden Barack Obama.

Pertemuan ini dihadiri oleh Wakil Ketua Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata, Jenderal Sami Anan, bersama dengan anggota dewan lainnya dan Mahmud Abbas yang didampingi para delegasi Fatah.

Abbas berterima kasih kepada dewan militer dan pemerintah Mesir atas dukungannya untuk Palestin dan peranan utama Mesir dimainkan dalam menciptakan perjanjian rekonsiliasi antara Fatah dan Hamas.

Nampaknya militer Mesir memperhatikan dengan saksama perubahan di Timur Tengah, dan berupaya menselaraskan kebijakannya dengan aspirasi rakyat Mesir, yang mendukung Palestin merdeka. (mh/aljz)

Penentang YAMAN kuasai 5 Wilayah



Pada saat kubu revolusioner mengambil alih sebahagian besar wilayah di Yaman, pasukan pemerintah membunuh sekurang-kurangnya tiga penunjuk perasaan di kota selatan Taizz.

Sekitar 3,000 orang berkumpul di luar pejabat polis di Taizz, terletak 300 kilometer (186 mil) selatan ibukota Sana'a, pada hari Ahad (29/5) untuk menuntut pembebasan seorang pendemo yang ditahan oleh polis, AFP melaporkan.

Pasukan keamanan menembakkan peluru ke udara dalam usaha untuk membubarkan kerumunan pendemo, tapi kemudian peluru ditembakkan ke arah mereka ketika para pendemo enggan bubar..

"Tiga pendemo terbunuh oleh tembakan polis dan puluhan lainnya cedera, beberapa mengalami luka serius," kata seorang pegawai hospital .

Sementara itu, revolusioner Yaman mengatakan pasukan yang setia kepada Presiden Ali Abdullah Saleh telah kehilangan kawalan atas lima wilayah, termasuk Mareb dan Saa'da.

Insiden ini datang pada saat terjadinya gencatan senjata antara pasukan Yaman yang setia kepada Presiden Ali Abdullah Saleh dan suku penentang yang mulai berlaku pada hari Minggu kemarin.

Friday, 27 May 2011

MOSSAD Rancang Bunuh Syeikh Al-Qardhawi dan Al-Baradei



Laporan media menyebutkan bahawa agensi rahsia Israel Mossad merancang untuk melaksanakan serangkaian pembunuhan politik untuk simbol-simbol Mesir di antaranya tiga calon presiden mesir, Amr Mussa, Muhammad Elbaradai dan Hamdin Sabahi serta beberapa tokoh utama Ikhwanul Muslimin termasuk Syeikh Yusuf Qardhawi.

Akhbar "Rose El Yussuf" pada hari Selasa lalu (24/5) melaporkan bahawa informasi terkait rancangan Mossad ini telah ditemukan dalam dokumen dan gambar-gambar rahsia yang berhasil didapatkan dari pembobolan Kementerian Pertahanan Israel dan Pejabat Perdana Menteri serta Radio Tentera Israel.

File dokumen rahsia ini termasuk berisi aksi yang saat ini sedang dilakukan oleh Mossad untuk melakukan pembunuhan di Mesir dan Timur Tengah, juga untuk melakukan serangkaian pembunuhan di Kaherah, di mana mereka merancang untuk memasuki Mesir dalam suasana kekacauan dan membunuh tokoh-tokoh utama Ikhwanul Muslimin dan sejumlah tokoh penting lainnya seperti Syeikh Yusuf Qardhawi dan sejumlah hakim Mesir.

Para agen Mossad yang akan menjalankan misi pembunuhan ini menurut laporan melakukan pelatihan di Amerika Syarikat dan mereka dilatih untuk fasih dalam berbicara Arab Mesir dan menyamar seperti layaknya warga Mesir secara umum.(fq/imo)

Yaman Kian Kacau Bilau

 KEPULAN asap dilihat di Sanaa selepas pertempuran  antara puak bersenjata dengan polis berhampiran rumah  Sadeq.


KEPULAN asap dilihat di Sanaa selepas pertempuran antara puak bersenjata dengan polis berhampiran rumah Sadeq.

Perang saudara mungkin meletus

SANAA: Perang saudara mungkin meletus di Yaman selepas pertempuran besar berlaku antara puak bersenjata dengan Pengawal Republikan yang memaksa Lapangan Terbang Antarabangsa Sanaa ditutup dan semua penerbangan dialihkan ke Aden di selatan negara itu, kelmarin.

Puak Arhab diketuai Abdul Majid Al-Zindani terbabit dalam pertempuran dengan tentera itu. Majid dikategorikan sebagai penyumbang kewangan pengganas oleh Amerika Syarikat dan sekatan dikenakan ke atasnya.

Akhbar Arab News turut melaporkan bahawa pertempuran turut meletus antara pasukan keselamatan dengan puak pembangkang yang setia kepada Sadeq Al-Ahmer sejak tiga hari lalu.

Saksi berkata, puluhan puak bersenjata itu terbunuh semalam dalam pertempuran dengan angkatan Pengawal Republikan yang terlatih di kawasan Al-Hasbah, berdekatan rumah Sadeq.

Kelmarin, penyokong Sadeq menawan bangunan Kementerian Perdagangan dan Pelancongan serta bangunan agensi berita kerajaan, Saba.

Beberapa ketua puak turut diserang ketika menguruskan gencatan senjata antara pasukan Sadeq dan kerajaan.

Pengawal Republikan bertindak menutup ibu negara itu dalam usaha menghalang puak bersenjata memasuki bandar itu.

Presiden Ali Abdullah Saleh berdepan desakan antarabangsa supaya berundur. Tetapi, pemimpin itu enggan bertolak ansur mahupun menerima sebarang tawaran.

“Kami akan berdepan dengan pihak menimbulkan kekacauan dengan apa saja cara,” katanya kepada wartawan asing. – Agens

Monday, 23 May 2011

Ikhwan Tunggu 60 Tahun Untuk Dapatkan Pejabat



Ikhwanul Muslimin Mesir Sabtu lalu telah membuka markas baru mereka di Kaherah setelah 60 tahun diharamkan, dalam upacara yang dihadiri oleh para pegawai dari parti Islam Turki.

Wakil pemimpin Felicity Party, atau SP, Hasan Bitmez dan anggota dewan Oğuzhan Asiltürk berada di antara tokoh politik dari Mesir, Jordan, Malaysia, Nigeria, Somalia dan Turki yang menghadiri upacara pembukaan di daerah Moqattam bersama dengan para intelektual, calon capres dan tokoh penting Mesir lainnya.

"Selama 60 tahun kami dianggap sebagai kelompok haram, kami digerebek dan ditangkap oleh polis sepanjang waktu, namun sekarang kami memiliki pejabat pusat yang legal secara undang-undang dan bahkan kami boleh menempatkan logo Ikhwanul Muslimin di depan pejabat kami," kata salah satu pemimpin Ikhwanul Muslimin, Dr. Ashraf Abdulgaffar, mengatakan kepada Hurriyet Daily News pada hari Ahad lalu (22/5).

Bitmez mengatakan Ikhwanul Muslimin akan memainkan peranan penting di masa depan Mesir, kantor berita Anatolia melaporkan. Asiltürk mengatakan hal itu sangat bagus bahwa Ikhwanul Muslimin sekarang memiliki kantor pusat di Kairo setelah waktu yang lama tidak memiliki kantor resmi.
Mursyid 'Aam Ikhwanul Muslimin, Dr. Muhammad Badi, yang memimpin pembukaan kantor pusat Ikhwan, mengatakan tujuan jamaah Ikhwan adalah untuk mewujudkan pemerintahan sipil dengan referensi ke Islam.
Dr. Ashraf Abdulgaffar mengatakan Ikhwanul Muslimin kini memiliki kantor cabang di 26 kota dan berusaha untuk memiliki satu kantor perwakilan di setiap kota yang ada di Mesir.
Didirikan oleh Hassan al-Banna di kota Terusan Suez Ismailia pada tahun 1928, Ikhwanul Muslimin adalah salah satu gerakan pertama dan paling sukses menganjurkan Islam sebagai sebuah gerakan politik dalam konteks modern.
Dalam waktu 20 tahun gerakan ini berkembang menjadi lebih dari 500.000 anggota, dengan beberapa cabang gerakan di negara-negara Arab lainnya.
Pemerintah Mesir melarang Ikhwanul tahun 1954 setelah menuduh Ikhwan mencoba untuk membunuh Presiden Gamal Abdel Nasser.
Jamaah Ikhwan selama ini telah menggunakan apartemen sebagai "pusat komunikasi" mereka sampai mantan pemimpin Mesir Hosni Mubarak berhasilkan digulingkan pada bulan Januari lalu. (fq/hurriyet)

Thursday, 19 May 2011

Hamas dan Fatah Sepakat Bentuk Pemerintahan Persatuan

 

Faksi Palestin Hamas dan Fatah telah menyetujui mekanisme untuk pembentukan pemerintah persatuan menyusul dua hari pembicaraan di antara kedua faksi yang saling bersaing tersebut.

Perundingan diadakan di ibukota Mesir, Kaherah, untuk menentukan mekanisme pelaksanaan kesepakatan rekonsiliasi Palestin, kata pernyataan Mesir yang dikeluarkan oleh pejabat berita rasmi MENA hari Selasa kemarin (17/5).

Dua faksi menandatangani perjanjian kesatuan awal bulan ini dan berjanji untuk mengadakan pemilihan presiden dan legislatif dalam setahun mendatang.

"Pertemuan berlangsung dalam suasana yang positif, di tengah kerjasama dan pengertian dari kedua belah pihak yang mencerminkan keinginan mereka untuk mengakhiri perpecahan mereka secepatnya," kata pernyataan itu.

Namun kedua Faksi menolak untuk menjelaskan tentang rincian pertemuan tetapi mengatakan pengumuman pemerintah Palestin akan segera datang.

Hamas dan Fatah telah berselisih sejak Hamas yang berbasis di Gaza memenangkan pemilihan parlimen Palestin pada Januari 2006.

Setelah kemenangan pilihan raya Hamas, Fatah mendirikan markas di Tebing Barat yang diduduki Israel, sehingga membatasi pemerintahan dengan Hamas di Jalur Gaza.(fq/prtv)

Wednesday, 18 May 2011

inkelstein: Israel Khawatir Kalau Mesir Menjelma Kekuatan Serupa Turki dan Iran


Israel sangat khawatir jika Mesir paca revolusi 25 Januari akan menjelma menjadi kekuatan seperti Turki dan Iran di kawasan Timur Tengah. Demikian ungkapan Pakar Politik Timur Tengah Amerika terkemuka Dr. Norman Finkelstein sebagaimana dikutip koran Mesir Al-Ahram (17/5).

"Israel khawatir kalau Mesir akan menjadi kekuatan seperti Turki dan Iran, kekuatan yang menuntut hak dan posisinya di bawah matahari," kata Finkelstein.

Perubahan situasi politik di Mesir pasca revolusi 25 Januari lalu itu, yang terjadi dalam skala yang sangat cepat dan besar sekaligus tak terduga sebelumnya itu, dipastikan akan merubah peta dan gugusan konstelasi politik Timur Tengah.

Perubahan tersebut, kata Finkelstein, juga telah merubah berbagai rencana dan agenda Israel untuk kawasan tersebut, termasuk di antaranya rencana Israel terkait Iran dan Jalur Gaza.

Dengan terjungkalnya rezim Mubarak, Israel bisa dipastikan akan mengalami sendatan dan banyak kendala dalam menjalankan beberapa agenda politiknya di Timur Tengah. Bagaimanapun, Mesir di masa rezim Mubarak, yang berkuasa hampir 30 tahun, adalah sekutu terdekat Israel di kawasan Timur Tengah.

Pasca revolusi, para pemegang kebijakan Mesir pun diperkirakan akan meninjau ulang hubungannya dengan Israel. Salah satu tuntutan terbesar rakyat pada revolusi 25 Januari adalah "meninjau ulang" hubungan Mesir dengan Israel.

"Calon Presiden Mesir mendatang tidak mungkin memprioritaskan agenda hubungan Mesir-Israel, karena hal itu akan menuai kecaman dari pihak rakyat," kata Finkelstein.

Bagaimana pun, angin revolusi yang berembus di Mesir dan beberapa negara Arab lainnya telah merubah arah peta sejarah hubungan Arab-Israel ke arah yang masih abu-abu. (kd/ahr)

SUMBER

Tuesday, 17 May 2011

Mubarak Akan Minta Maaf kepada Rakyat Mesir


Presiden Mesir yang digulingkan Hosni Mubarak dan isterinya, yang keduanya ditahan dengan tuduhan korupsi, merancang untuk meminta maaf kepada rakyat dan melepaskan aset mereka dalam sebuah langkah putus asa mereka untuk mendapatkan amnesti, kata sebuah laporan media.

Mubarak dikatakan sedang merancang surat yang akan disiarkan di televisyen Mesir dan saluran TV Arab, meminta maaf atas nama dirinya dan keluarganya untuk setiap tindak pidana yang menyebabkan orang-orang menderita," menurut laporan yang diterbitkan dalam edisi hari Selasa (17/5) harian independen- Ash-Shorouk.

Mantan presiden ini juga akan meminta maaf atas setiap tindakan yang mungkin berasal dari informasi yang salah yang disampaikan kepadanya oleh penasihatnya," kata Al-Shorouk, mengutip sumber-sumber rasmi Mesir dan Arab.

Mubarak dan isterinya saat ini ditahan di sebuah hospital di resor Laut Merah Sharm el-Sheikh, setelah mereka berdua dilaporkan mengalami serangan jantung selama interogasi.

Mubarak juga akan mengatakan dia siap untuk menyerahkan asetnya kepada negara, kata akhbar itu.

"Surat permintaan maaf presiden dan usaha melepaskan aset, ditujukan untuk mendapatkan amnesti dari dewan militer yang berkuasa di Mesir," kata laporan itu menambahkan.

Sebuah sumber militer mengatakan kepada media bahawa banyak pihak, sebahagian besar media Mesir dan beberapa media Arab, telah menengahi mengenai hal ini, dan hal terjadi dalam kerangka undang-undang yang dapat diterima."

Dalam surat itu, Mubarak akan berpendapat bahawa dia pernah menjadi seorang perajurit tempur di angkatan bersenjata, membela bangsa tanpa ambisi untuk menjadi presiden, tapi berusaha untuk membawa tanggung jawab dan beban atas posisinya.

Dia akan mengatakan bahawa isterinya Suzanne bekerja pada projek-projek amal dalam usaha untuk berkhidmat kepada orang-orang Mesir.(fq/afp)

Monday, 9 May 2011

Mufti Besar Mesir Serukan Persatuan Untuk Melawan Sektarianisme

 




Mufti besar Mesir Syeikh Ali Jumaa meminta rakyat Mesir dan dewan tentera untuk melawan perilaku sektarianisme dan setiap usaha yang cuba untuk 'menggoyang' negara.

Mufti besir Mesir Syeikh Ali Jumaa pada hari Minggu kemarin (8 / 5) mengecam keras terjadinya insiden pertengkaran sektarian yang terjadi di daerah Imbaba Giza pada Sabtu malam lalu.

Syaikh Ali Jumaah menyatakan bahawa tindakan kekerasan sektarian tersebut bukan berasal dari orang-orang yang benar-benar memahami tentang agama dan meminta semua orang Mesir untuk berdiri bersama melawan orang-orang yang berusaha mengacaukan keamanan negara.

Dia lebih banyak menekankan pentingnya tegaknya Peraturan undang-undang dan menuntut Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata Mesir untuk segera mengambil semua langkah yang diperlukan untuk menghadapi kemungkinan berkembangnya rusuhan sektarian tersebut.

Dalam peristiwa berkaitan Syaikh Ali Jumaa menyeru diadakannya pertemuan yang mendesak semua kumpulan agama di Mesir untuk menghapuskan salah faham di antara mereka, menyusul terjadinya pertengkaran di Imbaba antara Kristian Koptik dan Muslim yang setakat ini telah menyebabkan 12 orang tewas.

Syaikh Ali Jumaa mengatakan hal tersebut dalam sebuah kenyataan yang dikeluarkan minggu terakhir yang menegaskan bahawa negara boleh jatuh ke dalam perang saudara jika penjahat terus dibiarkan melanggar undang-undang dan menimbulkan ketegangan sektarian di antara warga Mesir.

Kekacauan Agama di Mesir






KAHERAH 8 Mei - Pertempuran antara penduduk Islam dan Kristian di ibu negara Mesir ini semalam menyebabkan 10 orang maut dan lebih 186 lagi cedera dan sebuah gereja terbakar.

Kedua-dua kumpulan itu bertempur selepas penduduk Islam menyerang gereja Kristian Qibti, Saint Mena di Imbaba untuk membebaskan seorang wanita yang didakwa ditahan kerana telah memeluk agama Islam.

Sekurang-kurangnya lima yang maut dalam serangan lewat petang semalam ialah orang Kristian Qibti.

Di luar gereja itu, polis tentera menempatkan beberapa kereta berperisai untuk menyekat kemaraan penunjuk perasaan Islam.

Mereka melepaskan tembakan ke udara sementara penganut Kristian di hadapan gereja dan penduduk Islam tidak jauh dari situ membaling batu ke arah satu sama lain.

Penduduk Islam cuba menggempur gereja tersebut awal semalam, dengan mendakwa penganut Kristian menahan seorang wanita Islam.

Di satu sekatan polis di luar gereja St Mena, penduduk Islam berkata, penduduk Kristian mula melepaskan tembakan ke arah mereka setelah mereka cuba mencari seorang wanita Kristian yang memeluk agama Islam dan ditahan di dalam gereja.

"Mereka mula melepaskan tembakan ke arah kami sedangkan kami memprotes secara aman," kata seorang penduduk Islam, Mamduh.

Mufti Mesir, Ali Gomaa mengutuk keganasan yang menggugat keselamatan Mesir itu.

"Keganasan itu tidak mungkin disebabkan golongan beragama yang memahami agama masing-masing, sama ada Islam atau Kristian," katanya kepada agensi berita MENA. - AFP

Friday, 6 May 2011

Ismail Haniya berterima kasih kepada Mesir



Perdana Menteri Palestin Ismail Haniya, berbicara dengan Perdana Menteri Mesir, Esam Sharaf, melalui jaringan telefon, selama hampir satu jam Khamis lalu, dan Haniya mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Mesir atas tercapainya perjanjian rekonsiliasi dengan Fatah. Haniya juga menyerukan kepada Mesir membuka hubungan sejarah baru dengas Hamas. 

Menurut Haniya, perjanjian itu mempunyai nilai yang sangat penting bagi masa depan Palestin, menuju bangsa merdeka yang berdaulat, dan melepaskan diri dari penjajahan Israel.

Perdana Menteri Menteri Esam Sharaf, menegaskan, bahawa Mesir akan ikut mewujudkan isi perjanjian antara Hamas dan Fatah. Perjanjian antara Hamas dan Fatah selama ini gagal, kerana pemerintah Mesir selama berada di tangan Hosni Mubarak tidak menginginkan adanya rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah. Kerana rekonsiliasi itu hanya akan menjadi ancaman bagi Israel. Kerana itu, reaksi yang sangat keras dari perjanjian itu adalah Israel. Bahkan Israel telah memutuskan menghentikan dana bantuan dari luar negeri yang melalui Israel bagi rakyat Palestin di Gaza.

Langkah penting lainnya, yang diambil pemerintah Mesir, melalui Menteri Luar Mesir Al-Araby, menegaskan bahawa perbatasan antara Mesir dan Gaza akan dibuka secara tetap. Dengan yang diambilnya tindakan oleh pemerintah Mesir itu, maka akan membuka sekatan secara tetapyang dilakukan oleh Israel.

Kebijaksaan Mesir menjadi ketakutan kepada Amerika

 


Anggota parlimen AS mengancam akan memotong bantuan kepada Mesir, yang menjadi sekutu utama AS. Keprihatinan berkembang terus dikalangan DPR AS, melihat perubahan langkah yang dilakukan Mesir. Termasuk langkah-langkah yang diambil Mesir, dan tanda-tanda negeri Spinx itu menjauh dari Israel.

Washington rata-rata memberikan bantuan $ 2 bollion dolar per tahun - sekitar dua-pertiga diberikan kepada militer - kerana Kaherah menandatangani perjanjian Camp David dengan Israel pada tahun 1979.

Hal ini juga mendorong negara-negara donor lainnya dan lembaga kewangan internasional untuk memberikan bantuan kepada Mesir, yang de facto - persetujuan di bawah mantan Presiden Hosni Mubarak. Waktu itu, Mubarak menjadi penjaga dan"tulang punggung" Israel, di mana Israel melakukan konfrontasi terhadap Hamas.

Tetapi, Mesir mengambil posisi yang berbeza, sesudah Mubarak jatuh. Mesir lebih independen, tidak lagi mahu dicucuk hidung oleh Israel maupun AS. Tindakan baru Mesir, yang berubah secara total, membuat gelisah "Lobbi Israel", terutama yang ada di Kongres, yang melihat gelagat, bahawa Mesir tidak lagi "patuh" kepada Israel dan AS. Inilah "warning" bahaya,yang mulai terdengar sampai ke Capitol Hill.

Tentu, sekarang yang membuat gelisah Capitol Hill dan Washington, ketika Kaherah berhasil menjambatani perbezaan antara Hamas dengan Fatah. Dua faksi Palestin yang sudah lama berseteru, dan bahkan terlibat perang. Konflik antara Hamas dan Fatah ini, terus di "manage" (dikelola) oleh Israel, dan berusaha mendukung Fatah untuk menghancurkan Hamas. Semua itu dengan dukungan Mubarak dan Ketua Intelijen Mesir, Omar Sulaeman. Tetapi, pemerintahan baru Mesir, dan Menteri Luar al-Araby, berhasil membuat rujuk antara Hamas dan Fatah. Kedua faksi Palestin itu bersepakat menandatangani pernjanjian baru, yang akan membuat pemerintahan nasional.

Perkembangan lainnya, yang menusuk Israel adalah Mesir membuka secara tetap perbatasan Rafah. Di mana sesudah tindakan baru itu, orang-orang Palestin akan bergerak secara bebas dari Gaza ke Mesir, sebalik akan bebas bergerak dari Mesir ke Gaza. Langkah menghapus sekatan ini, yang selama sekatan Israel terhadap Gaza, mendapatkan dukungan Hosni Mubarak. Rakyat Palestin terkepung dan tidak dapat bergerak, akibat sekatan Israel itu.

Semua tindakan baru pemerintahan Mesir dikecam oleh anggota Kongres dan pemerintahan Barack Obama, dan dinilai akan membahayakan keamanan Israel. Komite Hubungan Luar Negeri Kongres yang dipimpin Ileana Ros-Lehtinen, dan Komite Demokrkat Luar Negeri dari Partai Demokrat, Howard Berman, mengatakan bahawa semua bantuan AS kepada Mesir akan dipotong, jika Hamas tidak mau meninggalkan kekerasan, dan menjunjung tinggi perjanjian antara Mesir dengan Israel.

Saturday, 30 April 2011

Ikhwanul Muslimin SYRIA Seru Rakyat Bangun



Ikhwanul Muslimin Syria Jumaat semalam (29/4) menuduh rejim Presiden Bashar al-Assad telah melakukan keganasan di negara itu dan menyerukan warga Syria untuk tidak menyerah terhadap tirani.

"Setiap warga negara Syria tah rejim ini telah melakukan kekejaman di wilayah Syria, yang mensasarkan untuk membungkam keinginan yang diungkapkan oleh pemberontakan para patriot muda yang bercita-cita untuk kebebasan dan martabat," kata jemaah Ikhwan itu dalam sebuah pernyataan yang diperoleh AFP Jumaat.

"Allah menciptakan anda bebas, jangan biarkan tiran membuat anda dalam perhambaan," tambah pernyataan itu. "Teriakan dengan satu suara untuk kebebasan dan martabat."

Para aktivis Syria telah menyerukan "hari kemarahan" di Syria setelah solat Jumaat semalam, yang aksi setelah solat Jumat itu telah semakin memberikan tekanan kepada Assad, pada saat tenteranya terus melakukan kekerasan terhadap para demonstran yang dimulai pada pertengahan Mac lalu.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan tindakan represi pemerintah telah mengorbankan sekurang-kurangnya 453 warga awam Syria.(fq/fr24)

SUMBER

Friday, 29 April 2011

Mesir Akan Buka Sempadan Rafah Secara Berterusan

http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRPXZ5jnr5sXcw9Ju3l6xe6PtZx1NM4gMM30CQC50A7Yx7J_wKAxA&t=1
Mesir sedang mempersiapkan untuk secara berterusan membuka sempadan Rafah dalam sebuah langkah yang akan memungkinkan warga dan barang masuk dan keluar dari sempadan Gaza.

Laporan mengatakan Menteri Luar Negeri Mesir yang baru Nabil al-Arabi mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Al-Jazeera pada hari Khamis kemarin (28/4) bahwa persimpangan akan dibuka dalam waktu sepuluh hari ke depan.

Al-Arabi menyatakan bahwa langkah ini bertujuan untuk meringankan pengepungan Israel di Jalur Gaza dan meringankan blokade yang telah membuat penderitaan bagi rakyat Palestina.

Lebih dari 1,5 juta orang di jalur pantai tersebut telah hidup di bawah kepungan Israel sejak Juni 2007.
Rencana tersebut menunjukkan perubahan mendasar dalam kebijakan Mesir terhadap Gaza, menyusul terjadinya pemberontakan baru-baru ini di Mesir yang berhasil mengusir diktator Hosni Mubarak.

Sementara itu, kesepakatan telah dicapai untuk sebuah pemerintah persatuan antara faksi-faksi Palestina Hamas dan Fatah setelah perundingan yang diadakan di Kairo. Fatah sendiri telah memimpin Tepi Barat yang diduduki Israel sejak tahun 2007.

Hamas dan Fatah telah berselisih sejak Hamas memenangkan pemilihan parlemen Palestina pada Januari 2006.(fq/prtv)