KENALI PAS

Klik gambar untuk senarai artikel.

PRU13

Klik gambar untuk senarai artikel.

MANIFESTO

Klik gambar untuk senarai artikel.

FIKRAH

Klik gambar untuk senarai artikel.

TAHALUF SIYASI

Klik gambar untuk senarai artikel.

KALIMAH ALLAH

Klik gambar untuk senarai artikel..

Wednesday, 1 June 2011

Dasar Kebangsaan Kita

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBOZZ_fYg_kwTdYb5mcKew2DSalwvIx0KPkTqCZz26-eD8kJnpvkJgM5_Byc1DII1r-9t7a3B03W2aQW2bvcBrUw-bu5AgmLBtI9WBi_KaWNoJ1TzL5E9BZM2HmGec0P7bWJstXpFsyq5J/s1600/hassan-al-banna2.jpg 

Wahai Ikhwanul Muslimin!! Marilah kita dengarkan suara Rabbu al-Izzati yang berkumandang ke seluruh bumi dan langit, yang memberikan inspirasi kepada  setiap mukmin dengan harakat-harakat yang agung. Ketika suara ini terdengar di bumi dan di  langit melalui suara Muhammad Al-Amin, ternyata suara tersebut tidak pernah berhenti, kerana suara tersebut adalah kalam abadi:

Maksudnya: "Allah Pelindung orang-orang yang beriman...."

Memang benar. Ini adalah panggilan Allah. Lantarannya kami menyambut dengan sambutan labbaik, dan segala puji hanya bagimu ya Allah! Engkau kekasih kaum beriman, dan Engkaulah Penolong para mujahid yang membela hak-hak kaum tertindas dan terusir dari tempat tinggalnya.  Muliakanlah kaum yang berlindung kepadaMu, dan menanglah kaum yang minta pertolongan hanya kepadaMu.

Allah berfirman di dalam KitabNya:

Maksudnya: “Sesungguhnya Allah pasti menolong  orang  yang menolong (agama)Nya. SesungguhnyaAllah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa".

Marilah sama-sama kita mendengar suara Al-Qur'an dan memahami makna yang terkandung di dalamnya. Marilah kita dengarkan:

Maksudnya:"Allah Pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan(kekafiran) kepada cahaya (iman)".

Maksudnya: “Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dialah sebaik-baik penolong”.

Maksudnya: "Sesungguhnya penolong kama hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang  yang  beriman,yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)".

Maksudnya : "Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal ”.

Maksudnya : "lngatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekuatiran terhadap mereka dan tidak(pula) mereka bersedih hati. Orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa". 

Maksudnya : "Yang demikian itu kerana sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan kerana sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada mempunyai perlindungan”.

Tidakkah saudara lihat dalam ayat-ayat yang nyata ini bahawa Allah menisbahkan saudara kepada dirinya, menganugerahkan kepada saudara keistimewaan perlindungannya dan melimpahkan kepada  saudara limpahan keagungannya. Firman Allah:

Maksudnya: "Kekuatan itu hanyalah bagi Allah RasulNya dan bagi orang-orang  yang beriman, tetapi orang-orang munafiq itu tidak memahami”.

Dalam Hadith Qudsi RasuluLlah telah bersabda: "Pada hari kiamat kelak Allah berfirman; Wahai anak-anak Adam aku jadikan nasab keturunan, kamu iuga mengadakan nasab keturunan, lantas kamu mengatakan pulan bin pulan, dan aku pula mengatakan; sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu ialah mereka yang bertaqwa. Pada hari ini aku saniung nasabku dan ku rendahkan nasab kamu

Saudara, oleh kerana inilah para salihin yang terdahulu lebih suka menghubungkan nasab mereka kepada Allah, mereka melakukan perhubungan mereka dan matalamat amal mereka hanya semata-mata untuk mencapai nasab yang mulia ini, kerana itu kita dengar mereka berkata kepada sahabat mereka:

"Jangankau seru namaku kecuali dengan "Ya 'Abdullah (hamba Allah) sesungguhnya itulah  nama  yang paling mulia padaku “.

Begitu juga ketika salah seorang dari mereka ditanya adakah  ayahnya dari keturunan Tamim atau Qais, beliau terus menjawab: "Ayahku Islam, tiada yang lain bagiku,

Bila mereka bermegah dengan Tamim dan Qais”.


Tiada kebanggaan pada yang lain:

Saudara yang mulia, manusia akan bermegah dengan  keturunan nasab mereka  bila mereka telah sebati dengan  ketinggian dan kemuliaan yang telah dicapai oleh nenek moyang mereka dan bila mereka ingin meniupkan semangat kemegahan dan kemuliaan ke dalam jiwa  anak-anak  mereka. Tidakkah engkau merasakan ketinggianmu ketika nasabmu dinisbahkan kepada Allah,  ketinggian yang paling agong,ketinggian yang diharapkan oleh mereka yang mengejar keagungan.

Sungguh benar firman Allah: Maksudnya: "Sesungguhnya keagongan itu hanyalah bagi Allah”.

Tidakkah engkau merasakan bahawa dengan memanjatkan nasabmu kepada Allah itu menjadi sebab utama yang dapat meningkatkan dirimu kepada satu darjat yang paling tinggi dan dapat meniupkan ke dalam jiwamu semangat ingin mara ke hadapan  bersama  mereka  yang  beramal? Adakah di sana satu darjat kemuliaan yang paling besar, satu pendorong yang kuat  untuk mencapai ketinggian selain dari engkau merasakan bahawa dirimu  bersifat Rabbani, hubungan dan nasabmu  hanyalah pada Allah. Oleh kerana sesuatu yang hanya diketahuinya maka Allah berfirman:

Maksudnya : “Akan tetapi hendaklah kamu meniadi rabbani kerana kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”.


Petikan daripada : Kemana Kita Menyeru oleh Syeikh Hasan Al - Banna Rahimahullah

Tuesday, 31 May 2011

Pertemuan Marsekal Hussien Thantawi dan Mahmud Abbas



Pemimpin Dewan Tentera Mesir , Marsekal Hussein Tantawi, mengadakan perbincangan pada hari Isnin dengan Presiden Palestin Mahmoud Abbas berkaitan dengan usaha regional dan antarabangsa untuk memperkuat proses perdamaian Israel-Palestin.

Mereka juga membicarakan dukungan Mesir untuk perjanjian rekonsiliasi baru-baru ini antara faksi Fatah dan Hamas Palestin.

Dalam pertemuan tersebut, Abbas menyatakan siap untuk memulai perundingan dengan Israel menggunakan asas yang disarankan oleh Presiden AS Barack Obama pada 19 Mei ucapan di Timur Tengah, serta mengandalkan keputusan Prakarsa Perdamaian Arab.

Dalam ucapannya, Obama mendesak Israel untuk menarik diri dari daerah ini telah mereka duduki sejak perang tahun 1967. Sementara itu, Israel menolak idea Presiden Barack Obama.

Pertemuan ini dihadiri oleh Wakil Ketua Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata, Jenderal Sami Anan, bersama dengan anggota dewan lainnya dan Mahmud Abbas yang didampingi para delegasi Fatah.

Abbas berterima kasih kepada dewan militer dan pemerintah Mesir atas dukungannya untuk Palestin dan peranan utama Mesir dimainkan dalam menciptakan perjanjian rekonsiliasi antara Fatah dan Hamas.

Nampaknya militer Mesir memperhatikan dengan saksama perubahan di Timur Tengah, dan berupaya menselaraskan kebijakannya dengan aspirasi rakyat Mesir, yang mendukung Palestin merdeka. (mh/aljz)

Penentang YAMAN kuasai 5 Wilayah



Pada saat kubu revolusioner mengambil alih sebahagian besar wilayah di Yaman, pasukan pemerintah membunuh sekurang-kurangnya tiga penunjuk perasaan di kota selatan Taizz.

Sekitar 3,000 orang berkumpul di luar pejabat polis di Taizz, terletak 300 kilometer (186 mil) selatan ibukota Sana'a, pada hari Ahad (29/5) untuk menuntut pembebasan seorang pendemo yang ditahan oleh polis, AFP melaporkan.

Pasukan keamanan menembakkan peluru ke udara dalam usaha untuk membubarkan kerumunan pendemo, tapi kemudian peluru ditembakkan ke arah mereka ketika para pendemo enggan bubar..

"Tiga pendemo terbunuh oleh tembakan polis dan puluhan lainnya cedera, beberapa mengalami luka serius," kata seorang pegawai hospital .

Sementara itu, revolusioner Yaman mengatakan pasukan yang setia kepada Presiden Ali Abdullah Saleh telah kehilangan kawalan atas lima wilayah, termasuk Mareb dan Saa'da.

Insiden ini datang pada saat terjadinya gencatan senjata antara pasukan Yaman yang setia kepada Presiden Ali Abdullah Saleh dan suku penentang yang mulai berlaku pada hari Minggu kemarin.

Usahkan Bezakan Ulama Dan Profesional

KEWUJUDAN PAS dalam lanskap politik negara, tidak lagi dikesampingkan. Selepas 54 tahun PAS mampu duduk sama tinggi dengan parti utama. Maka tidak hairanlah setiap kali menjelang muktamar, pelbagai polemik dicetus media. Ia bertujuan memperlihatkan kecamuk PAS dari luar. Antara isu yang diungkit berkaitan golongan ulama, profesional dan unity government. Bagi memahami situasi sebenar ikuti pandangan Mursyidul Am PAS, Tuan Guru Dato’ Nik Abdul Aziz Nik Mat ketika ditemui di pejabatnya Selasa lalu.

Nampaknya isu golongan ulama dan profesional dalam PAS diperdebatkan secara terbuka di media sekarang. Bagaimana Tuan Guru melihat situasi ini?

Sepatutnya tidak berlaku pengasingan di antara ulama dan profesional. Tetapi pengasingan berlaku juga hasil daripada penjajahan barat yang mengasingkan agama dan politik. Sampai kita terbawa-bawa dengan isu tersebut. Bukan sekadar berlaku di Malaysia tetapi di negara Arab juga. Negara Arab dijajah Perancis. Penjajah mengasingkan agama dan politik. Mereka sebarkan kefahaman itu di sekolah sehingga ke universiti. Dan apabila penjajah pulang negara bekas jajahan yang tidak kuat pengaruh agama terpengaruh juga menerima agama lain dan politik lain. 

Sedangkan agama dan politik adalah perkara yang satu tidak boleh diasing-asingkan. Dalam al Quran Allah Taala menyebut dalam surah Fathir ayat 27 yang bermaksud Allah turunkan air dari langit sehingga keluar buah-buahan dari perut bumi dengan bermacam warna dan beraneka rasa. Dan ayat 28 pula bermaksud orang yang gerun kepada Allah ialah ulama. Ini bermakna ulama tidak bererti hanya mengajar fiqah sahaja tetapi pandai juga mentadbir. Misalnya air yang diturunkan dari langit ini ada kaitan dengan ilmu astronomi. Ulama kena tahu kedudukan langit. Hujan turun dari langit ke bumi. Air yang turun ditampung oleh udara menyebabkan hujan yang turun bertitik-titik dan tidak segumpal jatuh di atas kepala kita. Ini bermakna ulama dan profesional adalah orang yang sama. 

Di Kelantan kita banyak buka pengajian agama. Dan sekarang kita buat Maahad Tahfiz Sains, di mana anak kita hafal al Quran dan tahu ilmu sains. Kita hendak lahirkan pelajar yang ada ilmu agama dan sains. Dan 20 atau 30 tahun akan datang penghulu kampung sehingga ketua jajahan dan menteri besar adalah mereka yang hafal al Quran dan tahu bidang sains.

Pandangan sesetengah pemimpin menyebabkan penyokong di akar umbi tidak faham?

Sepatutnya tidak berlaku kekecohan seperti sekarang kerana kita sudah lama gabungkan ulama dan profesional. Kita sudah lama gabungkan di antara ulama dan profesional. Saya tidak faham kerana apa pula timbul cerita ini. Ada sesuatu macam kena kecek (pengaruhi). Mungkin mereka terpengaruh dengan pihak lawan. Di Kelantan PAS jauh ke hadapan berbanding dengan Umno untuk menawan hati rakyat khasnya nonMuslim. Kita sebut orang Melayu, Cina, India, Siam adalah serupa kerana kita manusia belaka. Maka tidak timbul hendak letak kelompok-kelompok tertentu. Dalam solat kita sebut ‘Maliki Yaul Middi’ – pembalasan di akhirat kelak dia tidak kira perlembagaan Malaysia ke, Inggeris, Greek tua atau apa-apa sahaja. Allah Taala hanya kira perlembagaan yang Dia buat iaitu al Quran.

Ulama mesti tahu segala-galanya. Orang yang hendak pimpin sama ada hendak sebut nama Ikwan, Jemaah Islam ke atau apa sahaja perlu tahu agama dan agama itu bermaksud tahu juga akademik. Akademik bermaksud menerangkan kekuasaan Allah. Bagaimanapun proses Allah menurunkan air alim ulama kena tahu. Dan air menyuburkan pokok sehingga mengeluarkan buah yang bermacam-macam rasa. Saya tidak faham kenapa hendak kecoh sekarang.

Kebiasaannya ulama dianggap hanya mereka yang berpendidikan agama?

Itu fahaman lama ketika agama Islam masuk ke Tanah Melayu, orang yang mengajar agama tidak banyak tahu ilmu akademik. Sumber ilmu yang diambil di Makkah tidak banyak bidang akademik. Bagaimanapun sekarang di Makkah dan di mana sahaja ada bermacam-macam ilmu akademik. Al Quran dia hafal dan akademik pun tahu. Generasi baru sekarang menerajui gerakan Islam.

Apa pula maksud profesional?

Pada tanggapan saya orang yang belajar ilmu akademik. Akademik itu ilmu Allah juga. Siapa rajin dia dapat. Di Kelantan pada peringkat awal institusi pondok mengajar masyarakat pandai agama. Selepas itu berkembang menjadi Jami’ Merbau di mana ilmu pengajian lebih banyak berbanding pondok. Selepas itu ditingkatkan lagi menjadi Maahad Muhammadi dan perkembangan ilmu semakin meluas. Secara jelas di sini, apabila disebut ulama akan termasuk sama bidang akademik.

Bolehkah dikatakan pakar ekonomi dan bidang lain dikenali sebagai ulama memandangkan pengetahuan agama pun ada?

Kalau tidak tahu Islam, tidak bolehkan hendak dikatakan sebagai ulama. Mereka yang sokong PAS tetapi tidak ada ilmu agama, kita tidak boleh lantik sebagai pemimpin. Misalnya kalau kita hendak bawa kapal di laut, bukan sekadar pegang stereng sahaja tetapi kena tahu pelbagai perkara mengenai laut. Dia kena ada pengetahuan mengenai awan, cahaya matahari dan keadaan laut. Orang yang hendak jaga negeri mesti ada asas agama.

Di Kelantan ketika kita mula-mula mentadbir, saya minta pindahkan wang daripada bank riba ke Bank Islam. Cara macam mana hendak buat itu orang belajar bidang akademik yang lakukan. Orang hendak jadi Menteri Besar kena tahu ilmu akademik dan agama.

Barisan anggota Exco yang Tuan Guru lantik sekarang dikategori sebagai ulama?

Katakanlah orang itu tidak belajar di pondok, tetapi dia duduk lama dengan saya. Dia tengok perangai saya, dia dengar ucapan saya, dan hadir usrah bersama saya, macam mana boleh dikatakan tidak belajar agama. Tidak semestinya belajar di pondok baru boleh dikatakan tahu asas agama. Mereka semua sudah lama bekerja dengan saya. Sepanjang perkhidmatan itu mereka boleh menimba ilmu agama. Jadi boleh dikategorikan mereka sebagai ulama juga.

Apa nasihat Tuan Guru mengatasi percanggahan pandangan sekarang?

Saya nasihatkan kita kembali kepada asal. Ini kerana agama ada jalinan dengan akademik. Dalam Islam ada disebut agama dan daulah. Ada pun fahaman yang mengatakan agama lain dan politik lain adalah dibawa oleh penjajah. Kita cuba usaha ranapkan pengaruh penjajah dari sehari ke sehari. Tidak ada pasal hendak kita timbulkan isu tersebut. Kita telah lama memilih pemimpin yang ada asas agama. Sekarang nampak kejayaan apabila orang bukan Islam juga sudah tertarik dengan PAS. Orang Cina yang sokong Pakatan Rakyat sudah pandai beri salam, sedangkan MCA, MIC sudah lama berkawan dengan Umno, namun mereka tidak memberi kefahaman Islam kepada bukan Islam. Generasi orang bukan Islam sekarang sudah ramai berpelajaran. Dan Islam dari awal lagi menyarankan supaya menuntut ilmu. Islam sesuai dengan akal fikiran manusia.

Sekarang ramai pemimpin tampil merebut jawatan dalam PAS, tidakkah itu boleh menimbulkan masalah?

Mereka yang menawar diri untuk bertanding kerana sudah lama berjuang dalam PAS. Mereka tahu asas-asas Islam. Dan kita belum dengar ada orang mengkritik calon-calon tersebut tidak sembahyang atau engkar ajaran agama. Jadi terpulang kepada perwakilan bagi memilihnya. Saya suka orang tawar diri untuk berkhidmat kepada gerakan Islam.

Pada pandangan Tuan Guru wajarkah jawatan utama dikekalkan?

Kita beri peluang kepada kawasan untuk mencalon dan memilih kecuali kalau ada masalah selepas muktamar kita wujudkan peraturan khusus.

Tidakkah boleh menimbulkan perpecahan dalam PAS?

Kita hendak cari manusia yang tidak berpecah tidak ada. Allah telah sebut sebelum Nabi Adam dibawa turun ke bumi di mana Allah Taala menyebut ‘Hai Adam apabila kamu turun ke bumi kamu akan bertengkar sesama sendiri. Bagaimanapun bagi mana-mana orang yang turut hidayah Aku akan senang lenang tanpa ada sebarang masalah.’ Sekarang apabila perwakilan ramai kita memilih menggunakan kertas undi dan tidak lagi angkat tangan.

Sebelum ini media harian menganggap wujud dua kelompok dalam PAS iaitu pro Endorgan dan konvensional. Benarkah demikian?

Itu sekadar tanggapan yang dimainkan media hendak lariskan suratkhabar mereka. Ada sesetengah wartawan menulis dengan hasrat mahu melaga-lagakan, dan ada juga wartawan yang lebih berhati-hati kerana mengambil sikap tanggungjawab di dunia dan akhirat. Dalam PAS hanya ada satu kumpulan yang berjuang untuk mendaulatkan Islam. Perjuangan kita di atas dunia hendak daulatkan Islam dan di akhirat mahu ditempatkan oleh Allah Taala ke dalam syurga.

Baru-baru ini timbul dakwaan dalam blog kononnya Tuan Guru dinasihatkan oleh pembantu yang cuba melagakan dengan Presiden. Sejauh mana kebenarannya?

Saya sudah tegur orang terbabit. Hendak cari orang yang tiada silap ini tiada. Orang yang tiada silap langsung ialah kaki lepak yang tidur sepanjang masa. Kesilapan tersebut maka agama ajar suruh nasihat menasihati antara satu sama lain.

Bagaimana pula dengan isu unity government?

Tidak timbul lagi sekarang kerana Presiden telah menarik balik cadangan tersebut.

Harapan Konvensyen PR ke-2: Islam sebagai asas

Bersempena dengan Konvensyen Pakatan Rakyat Ke-2 pada 19 di Kepala Batas, Pulau Pinang ini, semua pimpinan dan perwakilan hendaklah mengambil pedoman dari falsafah kesepakatan menurut Islam, iaitu mengutamakan peri pentingnya menjaga hubungan sesama anggota di dalam Pakatan Rakyat.

Ia juga bersesuaian dengan keutamaan ajaran Islam sebagai agama perpaduan, maka Konvensyen Pakatan Rakyat perlu meletakkan keagamaan sebagai asas dalam menguruskan kesepakatan politik.

Pimpinan dan perwakilan parti-parti Pakatan Rakyat––PAS, KEADILan dan DAP––yang menghadiri konvensyen itu nanti perlulah mengambil pedoman daripada maksud al-Quran yang sewajarnya dijadikan rujukan dan penghubung di dalam penyelesaian permasalahan ummah. Justeru ajaran Islam dan asas-asas keagamaan dapat dijadikan rujukan utama dalam menguruskan kesepakatan hubungan antara parti-parti Pakatan Rakyat.

Bagi PAS, amat meyakini bahawa Allah telah menciptakan manusia dalam sifat yang berbeza-beza. Misalnya, sepuluh manusia yang diciptakan Allah, didapati sepuluh kepala (pemikiran) yang bebeza. Bagaimanapun, perbezaan itu tidak akan memberi masalah sekiranya ia berpandukan ajaran Islam dan menjadikan al-Quran sebagai panduan, kerana Islam itu untuk semua kaum. Firman Allah SWT (surah Ali-Imran ayat 103):
Bermaksud: “…dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu ketika kamu bermusuh-musuhan (semasa jahiliah dahulu), lalu Allah menyatukan di antara hati kamu (sehingga kamu bersatu-padu dengan nikmat Islam), maka menjadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam yang bersaudara…”
Sewajarnya juga kita mengambil pengajaran dari sabda Nabi Muhammad SAW:
Maksudnya: “Janganlah saling benci membenci, saling iri hati dan saling membuat keracunan. Jadilah hamba-hamba Allah yang saling bersaudara, dan tidak boleh seorang Muslim menghindari saudaranya lebih dari tiga hari.”
Demikian lagi, firman Allah SWT (surah al-Maidah ayat 48):
Maksudnya: “Bagi tiap-tiap umat yang ada di antara kamu, Kami jadikan (tetapkan) suatu Syariat dan jalan agama (yang wajib diikuti oleh masing-masing) dan kalau Allah menghendaki nescaya Dia menjadikan kamu satu umat (yang bersatu dalam agama yang satu), tetapi Dia hendak menguji kamu (dalam menjalankan) apa yang telah disampaikan kepada kamu. Oleh itu berlumba-lumbalah kamu membuat kebaikan (beriman dan beramal soleh). Kepada Allah jualah tempat kembali kamu semuanya, maka Dia akan memberitahu kamu apa yang kamu berselisihan padanya”
Oleh itu, atas nama kesepakatan politik yang berpandukan hubungan antara parti di dalam Pakatan Rakyat yang mengutamakan asas-asas keagamaan hendaklah bersetuju dan bekerjasama di dalam setiap perkara yang memberi manfaat bersama untuk ummah di Malaysia hari ini. Sehubungan itu, saya yakin manusia akan selamat sepanjang hidup mereka di dunia dan sejahtera di akhirat kelak sekiranya mengikut kehendak Islam yang syumul.

Selamat berkonvensyen, semoga berjalanlah ia dengan keberkatan Allah SWT.

TUAN GURU NIK ABDUL AZIZ NIK MAT,
Al-Mursyidul Am PAS.
Kota Baharu, Kelantan.
12 Muharam 1432H/18 Disember 2010M.

Sejarah Parti Islam Semalaysia (PAS)



Kejayaan cemerlang PAS dalam pilihan raya umum ke-12 pada 2008 telah meletakkan PAS sebagai sebuah parti pembangkang utama yang dilihat oleh rakyat berupaya mengambil alih pemerintahan negara. Semenjak 1990, PAS telah melangkah maju daripada sebuah parti pembangkang yang dianggap ‘ekstrem’ menjadi sebuah parti pemerintah yang moderat dalam melaksanakan cita-cita Islamnya bermula di Kelantan semenjak 1990, kemudian ke Terengganu pada 1999 hingga 2004, dan kini PAS mendapat kepercayaan rakyat di Kedah, Perak dan Selangor. Di Parlimen juga, PAS telah bangkit dan menguasai 10 peratus daripada kerusi Parlimen atau 25 peratus daripada keseluruhan kerusi pembangkang. Perkembangan ini meletakkan PAS dalam perhatian peminat politik, pengkaji dan juga penyelidik.

Sebenarnya, kemunculan PAS dalam sejarah politik tanah air telah bermula semenjak 23 Ogos 1951 apabila para ulamak yang bersidang di Kuala Lumpur bersetuju menubuhkan sebuah persatuan yang dinamakan Persatuan Ulamak Se-Malaya. Nama persatuan ini kemudiannya diubah menjadi Persatuan Islam Se-Malaya (PAS) pada 24 November 1951, dalam satu
persidangan ulamak Malaya di Bagan Tuan Kecil (Butterworth), Seberang Prai. Itulah sekelumit permulaan sejarah PAS yang diasaskan oleh para ulamak yang kemudiannya berkembang menjadi sebuah pertubuhan politico-dakwah yang penting di negara ini. Penglibatan dan sumbangan PAS dala politik negara bermula sebaik sahaja ia ditubuhkan walaupun ramai pengkaji mengatakan PAS hanya menyertai politik menjelang pilihan raya 1955.

Kemunculan PAS ini dikatakan hasil daripada silang pengaruh yang berlaku antara beberapa gerakan Islam yang lebih awal seperti Ikhwanul Muslimun di Mesir, Masyumi di Indonesia dan Jamaat Islami di Pakistan. Ketiga-tiga pengaruh ini telah menyerap masuk ke Tanah Melayu melalui para ulamak yang belajar di Mesir, Mekah, India dan Indonesia. Ksedaran yang awal ialah para ulamak atau umat Islam memerlukan sebuah pertubuhan atau badan yang boleh mewakili mereka dalam semua aspek kehidupan terutama dalam keadaan Tanah Melayu sedang dijajah oleh British ketika itu. Longgokan ksedaran ini kemudiannya menghasilkan Majlis Tertinggi Agama Malaya (MATA) pada 1947 diikuti oleh Hizbul Muslimin pada 1948 kesan daripada usaha gigih Dr Burhanuddin al-Helmy dan Ustaz Abu Bakar al-Baqir. Walau bagaimanapun, gerakan Islam yang berpusat di Gunung Semanggol ini terkubur ekoran penguatkuasaan Ordinan Darurat pada Jun 1948.

Para ulamak mengambil beberapa sikap selepas tragedi darurat ini. Ada yang ’tawakuf’ daripada politik kepartian tetapi menggerakkan kesedaran rakyat melalui institusi pendidikan atau media massa. Dalam fraksi yang lain, para ulamak telah mengambil sikap untuk menyertai parti nasionalis Umno bagi membolehkan isu-isu umat Islam diperkatakan. Beberapa tokoh Hizbul Muslimin seperti Tuan Haji Ahmad Fuad Hassan, seorang lepasan Maahad Il Ihya Assyariff, Gunung Semanggol telah menyertai Umno pada 1950 dan dilantik mengetuai Bahagian Agama dan Pelajaran Umno. Bahagian ini kemudiannya mengaturkan beberapa persidangan untuk membolehkan ulamak menubuhkankan persatuan. Dalam tulisannya, ”Ulamak Malaya Belum Bersatu dan Belum Punya Persatuan”, Haji Ahmad Fuad menyifatkan kedudukan ulamak ketika itu umpama sampah yang tidak dihargai kerana tiada kekuatan. Lebih-lebih lagi ketika itu ulamak telah muak dengan sikap Umno yang mengabaikan isu pemurtadan Natrah, pengajuran judi loteri, fun fair, kaberat dan lain-lain. Dalam satu persidangan ulamak yang dipimpin oleh Sheikh Abdullah Fahim, Mufti Pulau Pinang di Seberang Perai pada 1951, mereka telah mengeluarkan fatwa mengharamkan judi loteri anjuran Umno.

Dalam konflik pelbagai yang dihadapi oleh para ulamak dan situasi politik semasa yang masih tidak menuju kepada jalan Allah itu, maka para ulamak membuat pendirian untuk menubuhkan PAS. Haji Ahmad Badawi, seorang ulamak di Seberang Perai telah mengeluarkan satu manifesto yang dinamakan ’Manifesto al-Badawi’ dengan tema ”Ulamak ke Jalan Allah” bagi menyambut persidangan untuk menubuhkan PAS pada 24 November 1951. Mereka memutuskan supaya PAS menjadi sebuah pertubuhan politik Islam yang memperjuangkan kemerdekaan melalui landasan demokrasi ke arah membentuk sebuah negara yang diredhai Alah. Para ulamak menolak bentukbentuk perjuangan yang diasaskan berdasarkan ideologi ciptaan manusia yang dibawa masuk oleh penjajah.

Semenjak itulah, PAS muncul sebagai sebuah pertubuhan politik Islam yang memperjuangkan kemerdekaan negara, kemudian menyertai pilihan raya demi pilihan raya. PAS juga menggunakan pelbagai saluran untuk menyampaikan mesej dakwahnya termasuk membentuk beberapa kerjasama politik dengan orang bukan Islam semenjak 1953. Di bawah kepemimpin Tuan Guru Haji Ahmad Fuad Hassan dan Dr Haji Abbas Alias, PAS bercakap soal kemerdekaan yang boleh ditegakkan hukum Islam. PAS menolak kerakyatan jus soli yang merugikan peribumi dan PAS mendesak supaya Islam dijadikan dasar negara yang merdeka. Apabila Dr Burhanuddin al-Helmy mengambil alih kepemimpinan PAS pada akhir 1956, PAS mula memperincikan sikapnya terhadap kemerdekaan yang hendak dicapai yang dianggap ’masih kosong’ dari
matlamat sebenar kerana mengabaikan kebangsaan Melayu dan ketuanan Islam1. Hal ini tergambar daripada hasrat Dr Burhanuddin,

”Dalam perjuangan kita (PAS) bagi mencapai kemerdekaan, kita telah dan terusmenerus memperjuangkan Melayu itu sebagai kebangsaan bagi negara Tanah Melayu ini dengan bertapak di atas asas ideologi Islam yang maha suci”2.

Penyertaan PAS dalam pilihan raya 1959 telah memberikan kejayaan besar apabila Terengganu dan Kelantan berjaya dikuasai. PAS membentuk kerajaan yang dipimpin oleh Mohd Daud Abdul Samad di Terengganu dan Ustaz Ishak Lotfi Omar di Kelantan sebagai Menteri Besar. PAS memulakan langkah sebagai kerajaan di dua negeri Pantai Timur untuk menterjemahkan ideologi perjuangannya yang berasaskan al-Quran dan Sunnah. Namun begitu, kerajaan PAS di Terengganu telah dijatuhkan pada Oktober 1961 hasil permainan politik kotor Perikatan. Di Kelantan, PAS berjaya bertahan sehingga BN mendaruratkan Kelantan pada akhir 1977. Dalam konteks ini, PAS-lah satu-satunya pembangkang yang diberikan kepercayaan oleh rakyat untuk memerintah kerajaan negeri di negara ini.

Selepas kejatuhan Terengganu pada hujung 1961, PAS mulai menerima tekanan-tekanan politik seperti penyalahgunaan ISA, penahanan Dr Burhanuddin al-Helmy diikuti oleh sekatan politik, keganasan Pemuda Tahan Lasak Umno dan beberapa siri pembunuhan politik. Perjuangan PAS untuk memartabatkan kebangsaan Melayu Raya berasaskan Islam telah dijadikan kambing hitam dalam Konfrantasi Indonesia pada 1963. PAS menolak pembentukan Malaysia kerana mahukan sebuah negara Melayu yang lebih besar meliputi seluruh alam Melayu dibentuk. Dalam masa yang sama Umno mencanangkan isu-isu perkauman yang akhirnya membawa kepada beberapa siri perbalahan kaum di Pulau Pinang, Perak dan Singapura antara 1964 hingga 1969, dan kemuncaknnya tercetus Tragedi 13 Mei 1969 yang mengubah landskap politik negara. Selepas tragedi ini, Datuk Mohd Asri Muda yang memangku jawatan Yang Dipertua Agung PAS semenjak 1965 telah dilantik sebagai Yang Dipertua Agung PAS pada 1971.

PAS memasuki era baru dalam politik negara apabila PAS mula meneroka kerjasama dengan Umno bagi menjamin kestabilan politik negara, mengekalkan ketuanan Melayu dan menyerapkan Islam dalam pemerintahan. PAS menyertai beberapa parti lain telah membentuk Kerajaan Campuran PAS-Perikatan pada 1973, kemudian sama-sama mengasaskan Barisan Nasional (BN) pada 1974. BN mencapai kejayaan besar dalam pilihan raya 1974 dan PAS sendiri telah berjaya menembusi ruang-ruang yang baru sehingga membolehkan Islam di sampaikan ke corong telinga rakyat dengan lebih berkesan. Walau bagaimanapun, keterbukaan PAS dalam membentuk kestabilan politik negara telah disalahgunakan oleh musuh-musuh politiknya dengan melaga-lagakan pimpinan PAS sehingga terjadi krisis politik Kelantan pada 1977. Akibatnya, PAS telah menolak Akta Darurat (Kelantan) 1977 yang menyebabkan PAS bukan sahaja disingkirkan dari BN, tetapi turut kehilangan Kelantan.

Setelah melalui tempoh yang mencabar antara 1978 hingga 1982 di mana PAS terpaksa berhadapan dengan perpecahan, kehilangan kuasa pemerintahan, tekanan ISA dan krisis kepemimpinan, akhirnya PAS telah mengasaskan kepemimpinan ulamak pada Oktober 1982. Tuan Haji Yusof Rawa telah diangkat untuk memimpin PAS bagi menggantikan Datuk Mohd Asri yang meletakkan jawatan. Permulaan era kepemimpinan ulamak memperlihatkan PAS kembali kepada asas perjuangannya untuk mendaulatkan Islam dan memberikan penekanan terhadap kwajipan tersebut. Gerakan dakwah PAS berkembang dengan lebih tersusun melalui pendekatan haraki dan dalam masa yang sama PAS terus membina jambatan dakwah dengan non-Muslim sehingga terbentuk Majlis Perundingan Cina (CCC). Di sudut yang lain, pendekatan PAS telah disambut oleh kerajaan dengan melaksanakan juzuk tertentu daripada Islam seperti Dasar Penerapan Nilai-nilai Islam, Dasar Bersih, Cekap dan Amanah serta penubuhan Bank Islam, Universiti Islam Antarabangsa dan lain-lain.

Paling mencabar pada era kepemimpinan ulamak ialah beberapa siri penyalahgunaan ISA yang berlaku pada 1984, 1987 dan 1989, ketimbang dengan desakan PAS untuk diadakan Debat Terbuka PAS-Umno pada 1984. Dalam kemelut ini, tercetus pula tragedi Memali pada November 1985 yang mengorbankan 14 orang ahli PAS. Tetapi, pada 1987, Umno pula menghadapi krisis kepemimpinan sehingga parti tersebut diharamkan. Yang Dipertua Agung PAS, Ustaz Fadzil Mohd Noor memanfaatkan kesempatan ini dengan mewujudkan kerjasama politik dengan serpihan Umno, Semangat 46 yang membolehkan PAS berkuasa semula di Kelantan. Ketua Dewan Ulamak PAS (kemudian Mursyidul Am PAS), Tuan Guru Dato’ Nik Abdul Aziz Nik Mat diberikan kepercayaan untuk memimpin kerajaan Kelantan semenjak 1990. Dengan dasar ’Membangun Bersama Islam’, PAS berjaya melaksanakan tanggungjawabnya untuk menegakkan hukum Allah yang berada dalam bidang kuasana.

Pada 1996, PAS mula berkrisis dengan Parti Melayu Semangat 46 (PMS46) yang menyebabkan Angkatan Perpaduan Ummah (APU) yang dibentuk pada 1989 berpecah. Dua tahun kemudian, Umno sekali lagi menghadapi perpecahan ekoran pemecatan Datuk Seri Anwar Ibrahim yang menyebabkan wujudnya gerakan Reformasi. PAS telah memimpin Majlis Gerakan Keadilan Rakyat Malaysia (GERAK) bagi menuntut keadilan kepada rakyat, kemudian menubuhkan Barisan Alternatif (BA) pada 1999. Melalui BA, PAS berjaya merampas semula Terengganu. Timbalan Presiden PAS, Datuk Seri Tuan Guru Haji Abdul Hadi Awang diamanahkan untuk mengetuai kerajaan Terengganu sehingga 2004. Selepas pencapaian lemah PAS pada 2004 kerana momentum Perdana Menteri baru, PAS bangkit semula pada 2008 dengan mengetuai tiga kerajaan negeri dan turut serta dalam kerajaan di Selangor. Kini, PAS dilihat sebagai pencabar utama Umno dalam menguasai politik orang Melayu Islam.

Sepanjang tempoh 1951-2008 ini, PAS telah dipimpin oleh tujuh orang Yang Dipertua Agung/Presiden iaitu Tuan Guru Haji Ahmad Fuad Hassan (1951-1953), Dr Haji Abbas Alias (1953-1956), Profesor Dr Burhanuddin al-Helmy (1956-1969), Datuk Mohd Asri Muda (1969-1982), Tuan Haji Yusof Rawa (1982-1988), Dato’ Fadzil Mohd Noor (1988-2002) dan Datuk Seri Tuan Guru Haji Abdul Hadi Awang (2002 hingga sekarang). Para pengkaji yang menganalisis perkembangan PAS ini mengatakan PAS telah mengalami empat jenis kepemimpinan iaitu kepemimpinan ulamak tradisi (1951-1956), kepemimpinan nasionalis kiri (1956-1969), kepemimpinan nasionalis kanan (1969-1982) dan kepemimpinan ulamak haraki (1982-sekarang)3. Dalam pada itu juga, mereka mengatakan PAS telah melalui empat tahap perkembangan iaitu tahap kemunculan (1951-1959), tahap kebangkitan (1959-1973), tahap kemuncak (1973-1977), tahap kejatuhan (1977-1990) dan tahap kebangkitan semula (1990-sekarang)4. Dari sudut pembinaan ideologi perjuangan PAS, dikatakan berlaku tiga fasa iaitu fasa penubuhan dan pembentukan ideologi (1951-1958), fasa pencernaan ideologi (1958-1982) dan fasa pengukuhan idelogi (1982-1995)5.


1 Burhanuddin al-Helmy (1957), Panduan Jiwa Pergerakan, dlm. Suara Islam, Thn. 2, Bil. 1, Disember.
2 Burhanuddin al-Helmy (1960), Sambutan Kemerdekaan Kali Ketiga, Utusan Melayu, 31 Ogos.
3 Mohd Fadli Ghani (2003), Dewan Pemuda PAS: Suatu Kajian Terhadap Tahap-tahap Perkembangan Organisasi
Dalam Era Bertindak, 1975-2003, Tesis Sarjana Sastera, Pusat Pengajian Sejarah, Politik dan Strategi UKM, h. 27.
4 Wan Abdul Rahman Latif (1992), Parti-parti Politik di Malaysia: Asas Perjuangan dan Penerimaan Masyarakat,
dlm. Dunia Islam, Feb., h. 35.
5 Zambry Abd Kadir (1995), Religion and Politics: The Search for Political Legitimacy of The Pan-Islamic Party of
Malaysia, Tesis PhD, Temple University, h. 25-28.